4 Tipe Intoleransi Gluten, Anda Salah Satunya?

4 Tipe Intoleransi Gluten, Anda Salah Satunya?

Setelah membaca alasan-alasan kuat tentang diet bebas gluten pada artikel sebelumnya, Anda mulai tertarik menerapkan diet ini.

Anda sadar bahwa orang sehat perlu mengurangi konsumsi gluten karena beresiko alergi dan obesitas. Sementara itu, orang dengan intoleransi perlu menghindari gluten karena akan berdampak negatif untuk tubuhnya.

Sekarang, kita akan bahas tentang 4 tipe intoleransi gluten. Apakah Anda salah satunya? 

Alergi gandum

Orang dengan alergi gandum memiliki respons imun yang abnormal terhadap asam amino gliadin dalam gluten.

Gejala alergi yang biasa terjadi adalah mual, muntah, gatal gatal, ruam pada kulit, asma, hingga anafilaksis yang mengancam jiwa. Gejala ini muncul dalam hitungan menit atau jam setelah penderita mengonsumsi gluten.

Seorang peneliti asal Australia, Vu NT, dalam penelitiannya tahun 2014 menyebutkan bahwa sebanyak 0.4% manusia di dunia mengalami alergi gandum, namun ada yang terdiagnosis, dan banyak yang tidak. Dia menambahkan bahwa 0.4% tersebut didominasi oleh anak-anak.

Jika Anda bertanya-tanya, apakah sakit perut setelah konsumsi gluten termasuk gejala alergi?

Jawabannya, bisa jadi iya, bisa tidak. Alergi gandum ini hanya dapat dipastikan dengan diagnosis menggunakan tes darah atau tes tusuk kulit.

Tertarik melakukan diagnosa?

Penyakit Autoimun : Celiac disease dan lainnya

Penyakit autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang tubuhnya sendiri.

Ada banyak jenis penyakit imun, contohnya penyakit lupus, rematik pada sendi, psoriasis, sirosis, scleroderma, dan penyakit celiac.

Pada penyakit celiac, imun tubuh mengenali gluten sebagai protein asing. Saat gluten masuk ke dalam usus, zat imun menyerang gluten dan sel mukosa usus yang mengakibatkan sel mukosa usus ikut mengalami kerusakan.

Jika sel usus sudah mengalami kerusakan, maka yang terjadi selanjutnya adalah penyerapan zat gizi tubuh terhambat, terjadinya diare, hingga penurunan berat badan.

Jessica RB, seorang peneliti dari Australia, menyebutkan bahwa sekitar 1% populasi di barat menderita penyakit celiac. Jessica juga mengatakan satu-satunya pengobatan jangka panjang penyakit celiac adalah diet ketat bebas gluten.

Di Indonesia, jumlahnya belum diketahui pasti, namun diduga angkanya tidak jauh dari 1 penderita per 100 orang. Jangan jangan, 1 dari 100 orang tersebut, salah satunya Anda?

Sensitivitas gluten non-celiac

Seseorang dapat mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan yang mengandung gluten, meskipun mereka tidak menderita penyakit celiac maupun tidak ada alergi protein gandum.

Anda mungkin bukanlah penderita celiac dan tidak punya alergi gluten, namun bisa saja tubuh Anda sangat sensitif terhadap gluten.

Sensitivitas terhadap gluten ini bisa menimbulkan gejala yang sama seperti alergi yaitu mual, muntah, kembung, sakit perut, sakit kepala, dan gangguan kulit.

Autisme

Austisme atau autistik adalah gangguan perkembangan yang ditandai dengan ketidakmampuan dalam berinteraksi sosial, berkomunikasi, dan berperilaku sesuai dengan perkembangan, ketertarikan dan aktifitas untuk anak seusianya.

Pada kebanyakan pasien autis ditemukan adanya pori-pori yang tidak lazim pada membran saluran cerna dan hiperpermeabilitas mukosa usus. Gluten pada anak dengan gangguan autistik, hanya terpecah sampai polipeptida. Harusnya dia pecah menjadi peptida ya.

Hiperpermebilitas pada mukosa usus menyebabkan polipeptida ini meningkat. Polipeptida dari gluten tersebut tidak tercerna, akibatnya dia keluar dari dinding usus dan terserap ke dalam aliran darah.

Pada aliran darah, polipeptida dari gluten akan beredar dalam bentuk gluteo yang kemudian terikat pada reseptor opioid di otak. Reseptor tersebut berhubungan dengan mood dan tingkah laku, sehingga menimbulkan gejala kelainan perilaku pada anak autistik.

Itulah mengapa setelah mengonsumsi gluten, emosi anak autistik tidak stabil, mudah marah, dan akhirnya mengamuk.

Mungkin Anda tidak termasuk pengidap penyakit celiac dan autisme, namun bagaimana jika ternyata Anda termasuk alergi gluten atau memiliki sensitivitas gluten non-celiac?

Bagaimana cara mengetahuinya? Sebelum melakukan diagnosa ke dokter, mungkin Anda ingin mengecek sendiri, apakah tubuh Anda bermasalah terhadap gluten atau tidak. Jika iya, mari kenali gejala dan ciri ciri nya.

Yuk, Bagikan kebaikan:

Apa pendapatmu?

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan Kolom bertanda * wajib diisi