Resep sih banyak, tinggal Googling

Halo, kita bertemu lagi.

Kami setuju banget sama judul email ini: Resep sih banyak, tinggal Googling.

Mungkin, Anda juga setuju dengan judul email ini.

Hampir semua info bisa kita kulik di Google.

Resep ayam bakar, resep bubur, hingga resep mie GF.

Kami juga pernah iseng googline dengan kata kunci: Resep Mie Bebas Gluten.

Seperti biasanya, google akan kasih kita pilihan, termasuk dari Youtube.

Kami klik salah satu video rekomendasi dari Youtube.

Kami tonton 2 video di sana.

Video 1 bikin mie GF dari tepung beras dicampur bayam.

Video 2 bikin mie GF dari tepung tapioka.

Yang menarik adalah kedua kreator punya pandangan yang beda soal gluten.

Tapi, email ini tidak dimaksudkan untuk mengutip pernyataan mereka, kemudian mendebatnya.

Semua orang punya pendapat, tinggal apakah mereka bisa membuktikan dengan referensi yang valid.

Berpendapat dengan sumber yang jelas, tidak asal klaim.

Kami juga punya kisah mengenai klaim ini.

Suatu siang, kami googling makaroni GF.

Singkat cerita, dapatlah kami pelaku usaha yang berjarak 3 kilo meter dari rumah.

Akhirnya, kami dan ia berjanji untuk bertemu di lokasi usahanya.

Sore datang dan kami pun datang ke lokasi usahanya, penasaran, kok bisa beliau produksi makaroni GF.

Pelaku usaha yang ramah dan kami ngobrol banyak dengannya.

Kami tanya bagaimana bisa produk makaroninya GF.

Dia bercerita sambil menunjuk bahan baku makaroni yang ia gunakan.

Produksi suatu pabrik terkenal, yang jelas di kemasannya mencantumkan: dari gandum utuh.

Nah, bingung kan? Bagaimana bisa dengan bahan makaroni dari gandum utuh, hasil akhirnya menjadi makaroni GF.

Apa jawaban sang pelaku usaha? berikut kami kutipkan:

👇👇👇

“Oh, iya. Untuk bahan makaroni yang kami gunakan memang dari gandum utuh. Lalu, kami campurkan dengan bumbu yang bebas gluten. Kalau gluten ditambah bebas gluten jadi rendah gluten kan?”

ekspresi kami: 😮😮😮

Kami langsung bersegera mengakhiri percakapan sore itu, mulai tidak masuk akal itu 🙃🏃

Kisah kedua, agak pahit bagi kami.😥

Ceritanya, kami sudah berlangganan sejak 2011, pada pengolah tepung talas–yang tentu saja GF (begitu pikir kami, pada awalnya).

Kami buat banyak olahan dari tepung talas tersebut. Hasilnya enak, teksturnya sesuai harapan, aromanya tidak anyep/payau.

Beberapa waktu belakangan, kami iseng menguji klaim bebas gluten dari tepung talas tersebut.

Tahukah Anda apa yang kami dapatkan?

Tepung tersebut mengandung gluten yang melebihi standar yang ditetapkan BPOM, bahwa suatu produk bisa klaim GF.

Kagetlah kami, sudah langganan hampir 10 tahun.

Setelah kami desak, sang produsen akhirnya mengaku mencampurkan 20% dari tepung terigu ke tepung talasnya.

Kecewa? Sudah jelas? kepercayaan 1 dekade berakhir dalam sekejap

Kembali ke konteks bahwa resep bisa di googling.

Demikianlah, seperti yang sudah Anda tangkap dari 2 kisah di atas.

Semua orang bisa asal klaim GF.

Semua orang juga bisa bertindak tidak etis, menciderai kepercayaan.

Maka, seseorang bisa saja mencari resep via internet.

Namun, untuk mendapatkan resep yang benar-benar GF…

klaimnya benar sudah teruji di laboratorium terakreditasi…

ia harus membuka jurnal tentang teknologi pangan.

Apakah resep yang kreator di internet tulis memang terbukti masuk akal secara ilmiah.

atau hanya cerita indah tapi khayal?

 

Sebagai penutup, kami juga tidak menghakimi siapapun.

Melalui email ini, kami ingin mengajak Anda untuk lebih kritis lagi terhadap informasi.

Diet GF dan pola hidup sehat memang bukan gaya hidup instan.

Tapi, jika Anda ingin langsung copy-paste resep mie GF yang menggunakan tepung GF teruji di laboratorium terakreditasi, Anda bisa cek di:👉 https://lokalloka.com/kelas-mie-basah/

Anda tidak perlu mengalami kisah pahit nan panjang seperti yang kami alami.

Anda bisa hemat waktu Anda.

Apa pendapatmu?

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan Kolom bertanda * wajib diisi